Perjalanan Aqua yang Berliku
Oleh: Dewani Asmara S.P ( XII IPA 1/13 )
Editor: Jeremy Hans ( XII IPA 1/19 )
Aqua
saat ini adalah perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia,
bahkan orang Indonesia jika beli air mineral pasti bilang “ beli Aqua “ padahal
yang dibeli adalah air minum kemasan merek lain. Kesuksesan Aqua ini tak luput
dari hinaan saat perusahaan ini masih menjadi perusahaan yang kecil. Aqua
didirikan oleh pak Tirto yang sangat tangguh dalam mengembangkan bisnis air
mineral dalam kemasan tersebut.
Pak
Tirto awalnya bekerja di perusahaan asing ketika masih muda. Ketika tamu
perusahaannya berkunjung ke Indonesia, banyak yang mengeluh soal air minum. Ada
yang sakit perut, atau tidak suka rasa air minum di Indonesia yang hanya direbus
dari air tanah. Pak Tirto juga sering ditugaskan ke luar negeri oleh
perusahaannya, dan ia mengamati bahwa di luar negeri, sudah banyak sekali
air mineral dalam botol yang dijual dan dikonsumsi secara bebas. Di sini pak
Tirto mulai menangkap adanya peluang air mineral dalam kemasan yang saat itu
tidak ada di Indonesia.
Ia memutuskan
untuk belajar cara membuat air mineral dalam kemasan ke Bangkok, Thailand. Saat
itu, dia ditertawakan Ibnu Sutowo, salah satu petinggi militer Indonesia. Ibnu
Sutowo berpikir bahwa di Indonesia airnya melimpah tapi mengapa pak Tirto ingin
menjual air mineral. Tidak salah jika Ibnu Sutowo berpikiran seperti itu,
karena semua orang di Indonesia minum langsung dari rebusan air tanah, tidak
ada industri air minum sama sekali.
Namun, ia yakin bahwa Aqua akan maju dengan cepat,
karena memang tidak mempunyai saingan di Indonesia. Beliau memutuskan keluar
dari perusahaan dan membangun pabrik Aqua di Bekasi pada tahun 1973. Nama awal
Aqua adalah Puritas. Namun, desainer logo berkata bahwa nama Puritas terlalu
sulit untuk dilafalkan, dan menyarankan memakai nama Aqua saja yang artinya
air. Pak Tirto langsung senang dan mengganti nama Puritas menjadi Aqua.
Produksi segera dimulai pada tahun 1974 dan mulai dijual pada Oktober 1974. Namun, Aqua tidak laku dijual.
Indonesia
masih belum bisa menerima air mineral dalam botol. Mereka menganggap minum air
rebus dari air tanah sudah cukup. Sampai 3 tahun, terpaksa kalau sampai tiap
bulan masih harus ada investasi tambahan untuk biaya operasional, maka terpaksa Aqua harus ditutup. Akhirnya, tim penjualan mengujicoba konsep ekstrem. Harga
Aqua dinaikkan tinggi dengan harapan menutup
kerugian. Tetapi, jumlah penjualan bukannya turun, malah naik sangat
drastis! Itulah titik balik kebangkitan Aqua.
Pasar
Aqua ketika itu masih terbatas orang asing atau ekspatriat yang bekerja di
Indonesia. Contohnya salah satu perusahaan Korea yang mengerjakan proyek tol
Jagorawi menjadi pelanggan setia Aqua. Kalau pekerja Indonesia hanya minum kopi
atau teh, justru ekspatriat di perusahaan tersebut minum air putih botolan merk
Aqua. Pada tahun 1984, Aqua masuk ke pasar lokal, namun masih sangat eksklusif
di toko-toko tertentu. Sudah mulai ada pelanggan tetap air galonan, namun
sangat terbatas di kalangan eskpatriat. Saat itu, di pasar air dalam kemasan
yang laris terjual dan ada di hampir semua toko adalah berwarna merah. Aqua
sendiri hampir tidak terlihat di pasaran.
Namun
bukan pak Tirto namanya kalau menyerah begitu saja. Ia mempunyai cita-cita di
setiap toko, ada warna biru (logo Aqua berwarna biru) diantara warna merah. Bermula
di kota Jakarta, setiap warung dan pedagang rokok diberi 3 botol gratis pada
awalnya. Waktu itu tim penjualan banyak yang bertanya pada pak Tirto, “Loh pak
kok cuma 3 botol?”. Namun beliau justru menjawab, dengan hanya 3 botol tiap
toko, maka setiap 2 botol laku, tinggal 1 botol. Hal ini akan membuat kesan
Aqua sangat laris. Mulailah ketika 3 botol itu habis, warung-warung dan
pedagang rokok memesan ulang Aqua, dan kali ini tidak lagi
gratis.
Strategi
ini kelihatan sederhana, namun berhasil membuat Aqua tersebar
dimana-mana. Dengan cepat masyarakat lokal bisa menemukan Aqua di pedagang
kecil, pasar, restoran, dan hotel sekalipun. Perlahan pengakuan masyarakat
terhadap merk Aqua pun mulai timbul, meskipun masih sangat kecil. Masih banyak
yang merasa aneh kenapa mereka harus membeli air dalam botol, ketika air rebus
dari air tanah masih bisa diminum.
Aqua
berusaha mengasosiasikan produknya dengan “air minum sehat”. Mereka berusaha
mengedukasi pasar bahwa air minum botolan lebih segar dan sehat daripada air
rebusan. Dengan cara memberikan banyak sponsorship pada acara-acara olahraga
dan anak muda. Puncaknya, Aqua menjadi salah satu sponsor PON, Pekan Olahraga
Nasional yang merupakan kompetisi olahraga terbesar nasional. Akhirnya mindset terbentuk pada masyarakat, Aqua ini airnya atlet, airnya orang sehat, jadi
kalau mau sehat, ya harus minum Aqua. Mindset ini berhasil membuat Aqua menjadi booming di
masyarakat.
Akhirnya
kompetitor mulai bermunculan, mendadak
harus bersaing dengan beberapa kompetitor sekaligus. Internal perusahaan
menjadi tidak tenang, mereka takut Aqua kalah dalam persaingan. Bukannya
kawatir, pak Tirto malah bersyukur dengan kehadiran kompetitor tersebut.Beliau
berkata, “Jangan takut sama kompetitor, rangkullah mereka. Karena dengan kompetitor,
saya yakin industri semakin maju. Berarti masyarakat justru akan semakin
teredukasi tentang sehatnya air minum kemasan ”. Beliau adalah orang yang
berpikiran sangat positif, sederhana, dan menyenangkan bagi banyak pihak.
Guncangan
terbesar Aqua terjadi ketika sosok penenang sekaligus bapak dari semua karyawan
Aqua, pak Tirto, meninggal di usianya yang ke 64 tahun pada tanggal 16 Maret
1994, hari itu juga menjadi hari terkelam dalam sejarah Aqua. Pihak internal
perusahaan sekali lagi sempat kehilangan arah. Pihak manajemen merasa Aqua
membutuhkan sosok kuat yang sudah berpengalaman, yang mempunyai karakter yang
sama dengan Pak Tirto.
Maka dengan
niatan tersebut, kerjasama dengan Danone dari Prancis pun terwujud. Danone yang
merupakan salah satu perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di dunia
adalah solusi terbaik bagi Aqua untuk mewujudkan cita-cita Pak Tirto. Kerjasama
antara Aqua dan Danone semakin memantapkan posisi Aqua sebagai air minum terbesar
di Indonesia.
Dalam perjalana Aqua, kita bisa belajar bahwa usaha keras tidak
akan mengkhianati, apa yang kita tabur adalah apa yang kita tuai. Hal yang
penting dalam keberhasilan adalah berani memulainya, berani mencoba. Kita
semua memiliki kesempatan untuk berhasil asal kita mau memperjuangkannya. Tidak
peduli kita diremehkan, apa yang kita harus lakukan adalah percaya kita bisa
dan wujudkan mimpi kita.