Friday, September 2, 2016

Perjalanan Aqua yang Berliku 

Oleh: Dewani Asmara S.P ( XII IPA 1/13 )
Editor: Jeremy Hans ( XII IPA 1/19 )

Aqua saat ini adalah perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia, bahkan orang Indonesia jika beli air mineral pasti bilang “ beli Aqua “ padahal yang dibeli adalah air minum kemasan merek lain. Kesuksesan Aqua ini tak luput dari hinaan saat perusahaan ini masih menjadi perusahaan yang kecil. Aqua didirikan oleh pak Tirto yang sangat tangguh dalam mengembangkan bisnis air mineral dalam kemasan tersebut.
Pak Tirto awalnya bekerja di perusahaan asing ketika masih muda. Ketika tamu perusahaannya berkunjung ke Indonesia, banyak yang mengeluh soal air minum. Ada yang sakit perut, atau tidak suka rasa air minum di Indonesia yang hanya direbus dari air tanah. Pak Tirto juga sering ditugaskan ke luar negeri oleh perusahaannya, dan ia mengamati bahwa di luar negeri, sudah banyak sekali air mineral dalam botol yang dijual dan dikonsumsi secara bebas. Di sini pak Tirto mulai menangkap adanya peluang air mineral dalam kemasan yang saat itu tidak ada di Indonesia.
Ia memutuskan untuk belajar cara membuat air mineral dalam kemasan ke Bangkok, Thailand. Saat itu, dia ditertawakan Ibnu Sutowo, salah satu petinggi militer Indonesia. Ibnu Sutowo berpikir bahwa di Indonesia airnya melimpah tapi mengapa pak Tirto ingin menjual air mineral. Tidak salah jika Ibnu Sutowo berpikiran seperti itu, karena semua orang di Indonesia minum langsung dari rebusan air tanah, tidak ada industri air minum sama sekali.
Namun, ia yakin bahwa Aqua akan maju dengan cepat, karena memang tidak mempunyai saingan di Indonesia. Beliau memutuskan keluar dari perusahaan dan membangun pabrik Aqua di Bekasi pada tahun 1973. Nama awal Aqua adalah Puritas. Namun, desainer logo berkata bahwa nama Puritas terlalu sulit untuk dilafalkan, dan menyarankan memakai nama Aqua saja yang artinya air. Pak Tirto langsung senang dan mengganti nama Puritas menjadi Aqua. Produksi segera dimulai pada tahun 1974 dan mulai dijual pada Oktober 1974. Namun, Aqua tidak laku dijual.
Indonesia masih belum bisa menerima air mineral dalam botol. Mereka menganggap minum air rebus dari air tanah sudah cukup. Sampai 3 tahun, terpaksa kalau sampai tiap bulan masih harus ada investasi tambahan untuk biaya operasional, maka terpaksa Aqua harus ditutup. Akhirnya, tim penjualan mengujicoba konsep ekstrem. Harga Aqua dinaikkan tinggi dengan harapan menutup kerugian. Tetapi, jumlah penjualan bukannya turun, malah naik sangat drastis! Itulah titik balik kebangkitan Aqua.
Pasar Aqua ketika itu masih terbatas orang asing atau ekspatriat yang bekerja di Indonesia. Contohnya salah satu perusahaan Korea yang mengerjakan proyek tol Jagorawi menjadi pelanggan setia Aqua. Kalau pekerja Indonesia hanya minum kopi atau teh, justru ekspatriat di perusahaan tersebut minum air putih botolan merk Aqua. Pada tahun 1984, Aqua masuk ke pasar lokal, namun masih sangat eksklusif di toko-toko tertentu. Sudah mulai ada pelanggan tetap air galonan, namun sangat terbatas di kalangan eskpatriat. Saat itu, di pasar air dalam kemasan yang laris terjual dan ada di hampir semua toko adalah berwarna merah. Aqua sendiri hampir tidak terlihat di pasaran.
Namun bukan pak Tirto namanya kalau menyerah begitu saja. Ia mempunyai cita-cita di setiap toko, ada warna biru (logo Aqua berwarna biru) diantara warna merah. Bermula di kota Jakarta, setiap warung dan pedagang rokok diberi 3 botol gratis pada awalnya. Waktu itu tim penjualan banyak yang bertanya pada pak Tirto, “Loh pak kok cuma 3 botol?”. Namun beliau justru menjawab, dengan hanya 3 botol tiap toko, maka setiap 2 botol laku, tinggal 1 botol. Hal ini akan membuat kesan Aqua sangat laris. Mulailah ketika 3 botol itu habis, warung-warung dan pedagang rokok memesan ulang Aqua, dan kali ini tidak lagi gratis.
Strategi ini kelihatan sederhana, namun berhasil membuat Aqua tersebar dimana-mana. Dengan cepat masyarakat lokal bisa menemukan Aqua di pedagang kecil, pasar, restoran, dan hotel sekalipun. Perlahan pengakuan masyarakat terhadap merk Aqua pun mulai timbul, meskipun masih sangat kecil. Masih banyak yang merasa aneh kenapa mereka harus membeli air dalam botol, ketika air rebus dari air tanah masih bisa diminum.
Aqua berusaha mengasosiasikan produknya dengan “air minum sehat”. Mereka berusaha mengedukasi pasar bahwa air minum botolan lebih segar dan sehat daripada air rebusan. Dengan cara memberikan banyak sponsorship pada acara-acara olahraga dan anak muda. Puncaknya, Aqua menjadi salah satu sponsor PON, Pekan Olahraga Nasional yang merupakan kompetisi olahraga terbesar nasional. Akhirnya mindset terbentuk pada masyarakat, Aqua ini airnya atlet, airnya orang sehat, jadi kalau mau sehat, ya harus minum Aqua. Mindset ini berhasil membuat Aqua menjadi booming di masyarakat.
Akhirnya kompetitor  mulai bermunculan, mendadak harus bersaing dengan beberapa kompetitor sekaligus. Internal perusahaan menjadi tidak tenang, mereka takut Aqua kalah dalam persaingan. Bukannya kawatir, pak Tirto malah bersyukur dengan kehadiran kompetitor tersebut.Beliau berkata, “Jangan takut sama kompetitor, rangkullah mereka. Karena dengan kompetitor, saya yakin industri semakin maju. Berarti masyarakat justru akan semakin teredukasi tentang sehatnya air minum kemasan ”. Beliau adalah orang yang berpikiran sangat positif, sederhana, dan menyenangkan bagi banyak pihak.
Guncangan terbesar Aqua terjadi ketika sosok penenang sekaligus bapak dari semua karyawan Aqua, pak Tirto, meninggal di usianya yang ke 64 tahun pada tanggal 16 Maret 1994, hari itu juga menjadi hari terkelam dalam sejarah Aqua. Pihak internal perusahaan sekali lagi sempat kehilangan arah. Pihak manajemen merasa Aqua membutuhkan sosok kuat yang sudah berpengalaman, yang mempunyai karakter yang sama dengan Pak Tirto.
Maka dengan niatan tersebut, kerjasama dengan Danone dari Prancis pun terwujud. Danone yang merupakan salah satu perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di dunia adalah solusi terbaik bagi Aqua untuk mewujudkan cita-cita Pak Tirto. Kerjasama antara Aqua dan Danone semakin memantapkan posisi Aqua sebagai air minum terbesar di Indonesia.
      Dalam perjalana Aqua, kita bisa belajar bahwa usaha keras tidak akan mengkhianati, apa yang kita tabur adalah apa yang kita tuai. Hal yang penting dalam keberhasilan adalah berani memulainya, berani mencoba. Kita semua memiliki kesempatan untuk berhasil asal kita mau memperjuangkannya. Tidak peduli kita diremehkan, apa yang kita harus lakukan adalah percaya kita bisa dan wujudkan mimpi kita.

No comments:

Post a Comment